ANDIKA HAZRUMY Mohon Restu & Dukungan dari seluruh Generasi Muda Banten
CURAH GAGASAN. Merespon masukan dari beberapa pengunjung, Redaksi menyediakan ruang bagi publik untuk mencurahkan segala ide atau gagasan nya. Semua ide, pendapat, dan masukan dapat disampaikan melalui e-mail: andika_center@yahoo.co.id. Semoga, ruang ini dapat memberi makna positif bagi kita semua dalam rangka turut mewarnai proses pembangunan Banten kedepan.

04 Januari 2009

Strategic Market Management: Universitas Tirtayasa Banten

Karl von Clausewitz, Bapak Filosofi, Strategi dan Taktik Perang Modern dunia barat dalam kertas kerja legendarisnya Vom Kriege (On War) menulis:

“Where absolute superiority is not attainable, you must produce a relative one at the decisive point by making skillful use of what you have.”

XXX

Tulisan ini saya dedikasikan sebagai bentuk cinta saya kepada Banten, daerah dimana saya menghabiskan seluruh masa kanak-kanak sampai remaja, beserta cerita lugu (lutju tur guemesi) kisah-kasih cinta monyetnya, yang akhirnya terhempas karena harus hijrah kuliah ke kota Pendidikan Yogyakarta…



Pernyataan Karl von Clausewitz terasa begitu sangat relevan jika dikontekstualisasikan pada Universitas Tirtayasa (Untirta) Banten. Untirta, universitas kebanggaan Banten ini masih berusia “seumur jagung” saat harus berkompetisi dengan universitas negeri seniornya seperti UI, ITB, IPB dan Unpad yang telah punya nama besar termasuk harus berkompetisi dengan universitas swasta lainya model Universitas Trisakti dan Swiss German University.

Sementara tanah “perdikan” Banten adalah “tambang emas” dimana industri-industri raksasa multinasional berpijak disana. Jika di Yogyakarta setiap RT (Rumput Tetangga, hi…, hi…ups sorry salah ketik: Rukun bukan Rumput) memiliki Universitas, maka di Banten setiap RT memiliki Perusahaan dan Industri Multinasional.

Jika di Yogya, misalkan orang ambil segenggam batu, lalu serabutan dengan ngawur tentu saja melemparkan batu tersebut pada kumpulan orang lewat, maka yakinlah salah satu dari batu itu akan mengenai kepala seorang Doktor. Maka jika kumpulan batu itu dilemparkan ngawur ke kumpulan orang Banten, maka percayalah salah satu diantaranya akan mengenai kepala ekspatriat, ha…, ha… :)

Jadi, Banten adalah tanah “perdikan” yang kaya raya industri multinasional tempat yang subur untuk membuat Untirta berpijak kokoh menancapkan kuku-kuku eksistensi budaya akademiknya.

Tapi bagaimana caranya? Bukankah pada saat bersamaan para “seniornya” (baca: congruent atau competitor?) model ITB, UI, IPB, Unpad sudah menacapkan kuku-2 eksistensi akademiknya juga di Banten? Dari mana Untirta harus memulai?

Karl von Clausewitz memberi lentera pasti untuk merumuskan strategi kompetisi. Untirta harus menghasilkan sesuatu yang berbeda dari congruent-nya. Bahasanya David Aaker dalam „Strategic Market Management“ adalah mem-fokuskan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk memproduksi produk yang relatif berbeda sehingga tidak dimiliki oleh congruent atau competitor-nya. Ini satu-satubya cara yang membuat

Unitirta eksis menjadi tuan tanah di tanah perdikan Banten.

Kekuatan Unitirta adalah dekat dengan industri. Untirta berdiri tidak terlepas dari tradisi lingkage industri, dimana institusi pendiri Untirta adalah PT Krakatau Steel. Jadi, tajamkan saja roh lingkage industri tadi. Transformasikan spirit lingkage indsutri tsb ke dalam sistem belajar mengajar model sekolah vokasi.

Buat Untirta seperti Fachhochschule-2 di Jerman. Sistem kuliahnya yang padat, compag dan terstruktur. Klo perlu model kuliahnya terjadwal ketat seperti SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). „Tidak perlu“ belajar teori terlalu banyak. Biarlah penguasaan teori dikuasai oleh alumni-2 UI atau ITB yang B. Inggris-nya lebih cas-cis-cus sehingga gampang aja mereka menelan buku-2 literatur „boso londo“. Mahasiswa Untirta cukup pake basa „Wong Kite bae geh“. Yang penting materi kuliahnya didesain seperti diktat-2 praktikum.

Yang penting para dosennya dibantu jalin kerja sama agar bisa magang di industri 1 atau 2 tahun. Lalu setelah magang suruh buat diktat kuliah, model diktat praktikum. Yang penting dibuat kurikulumnya 60% Kuliah Klasikal Teori dan 40% Praktikum. Dan Praktikum ini diajar oleh para instruktur dari Industri. Bukan dosen yang ngajar Praktikum tapi instruktur dari perusahaan-2 di Banten sehingga mahasiswa Untirta benar-2 menjadi mahasiswa praktisi murni.

Saya pikir setiap industri punya program Community Development Program. Kelemahan banyak masyarakat Indonesia itu inginnya dibantu uang. Padahal bantuan uang itu banyak yang tidak efektif. Bantuan uang itu banyak yang menguap karena dikorup oleh para pejabat. Selain itu bantuan uang lebih sulit diperoleh dari pada bantuan non-financial. Jadi, mulai lah focus untuk mengoptimalkan mendapatkan bantuan-2 non financial tapi punya nilai jauh lebih berharga dari pada uang.

Kerja sama antara Untirta dengan Industri di Banten itu sebentulnya mudah sekali direalisasikan. Sekali lagi yang terpenting jangan bernafsu untuk minta bantuan uang dari perusahaan. Tapi buat kerja sama non-finansial, misalkan:

  1. Dosen Untirta secara bergilir bisa magang di perusahaan. Buat konsep misalkan 3-1-1/2 untuk seluruh Dosen Untirta yaitu 3 Tahun untuk Ngajar, 1 Tahun untuk Magang di perusahaan dan 1/2 Tahun untuk buat diktat kuliah dan studi kasus.
  2. Buat kerja sama agar setiap perusahaan minimal 1 atau 2 orang karyawan terbaiknya menjadi instruktur untuk memberikan praktikum bagi mahasiswa Untirta. Secara teknis mudah, jarak Untirta dengan Industri paling cuma dengan jarak tempuh 30-60 menit saja.
  3. Syukur-2 jika Untirta bisa buat kerja sama bantuan equipment dan bantuan teknis lainnya dari perusahaan.

Model kerja sama Industri seperti ini sangat jamak dilakukan oleh Fachhochschule-2 di Jerman. Hasilnya? Jangan kaget Fachhochschule-2 yang nota bene lebih menitikberatkan pada skill dan vokasi punya reputasi tidak kalah prestisenya dengan Universitas.

Jangan kaget misalkan FH Furtwangen menurut majalah prestisius Computerwoche untuk kualitas Akademik bidang Ilmu Komputer masuk dalam 5 besar terbaik di Jerman sejajar dengan nama-2 besar World Class University model: Technische Univerität München, TU Darmstadt, atau Universität München.

Padahal FH Furtwangen itu „cuma“ fokus pada magang. Seluruh dosennya pasti pernah berpengalaman jadi praktisi di industri. Tentu saja FH Furtwangen relatif sedikit menghasilkan publikasi-publikasi penelitian dalam jurnal ilmiah terakreditasi di bandingkan TU München misalkan. Tapi skill alumnus FH Furtwangen salah satu yang terbaik di Jerman. Majalah „Computerwoche“ menghormati reputasi akademik FH Furtwangen dengan judul begitu provokatif: „FH Furtwangen: Wir sind zum Erfolg verdammt!“ http://www.computerwoche.de/job_karriere/hp_young_professional/559417/

(Terjemahan Preman ngawurya: „FH Furtwangen: Kurang ajar kita benar-2 sukses!)

Jadi, fokuskan saja Untirta pada kerjasama Industri. Jadikan magang, praktikum dan pengajaran dengan melibatkan instruktur indsutri sebagai nafas kehidupan akademik Untirta. Meskipun Untirta mungkin relatif tidak banyak menghasilkan publikasi-2 ilmiah dalam jurnal terakreditasi tapi alumninya berani berdiri tegak dihadapan alumni-2 ITB, UI, IPB, Unpad atau bahkan alumni dari perguruan tinggi top lainnya yang jauh dari Banten model UGM, Undip, ITS, dsb.

Mereka boleh saja punya nama besar, tapi jika anda memasuki pasar kerja industri Banten maka kami (Untirta) lah yang menjadi „tuan tanah“-nya, paling tidak itu harus menjadi keyakinan para alumni Untirta.

Saatnya Untirta menyalip di tikungan….

Salam hangat,
dari Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli
http://ferizalramli .wordpress. com/

sumber: WongBanten@yahoogroups.com
Dari: "Ferizal Ramli" (framliz@yahoo.com)
Sat, 03 Jan 2009 21:00:52 -0000

1 komentar:

  1. q bru mau masuk kul...
    pesimis banget bisa masuk untirta

    BalasHapus

Pengunjung Yth, Kami mempersilahkan anda untuk mengisi komentar disini. Jika berkenan, harap cantumkan nama & Kab/Kota tempat tinggal anda. Terima Kasih,,